Rabu, 21 Oktober 2015

Tips Agar Toko Kelontong Tidak Bangkrut Ala Wagub DKI Djarot

Standard



Jakarta | Berita Satu - Berdasar pengalamannya mengelola toko kelontong sewaktu kecil bersama ibundanya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat menemukan adanya empat kelemahan dalam pengelolaan usaha tersebut. Keempat kelemahan ini kerap kali membuat usaha toko kelontong yang dimiliki warga Jakarta bangkrut.  Berikut ini penjelasan pengalaman Djarot sekaligus menjadi tipsnya.


“Mereka bangkrut tidak semata-mata karena adanya toko modern atau minimarket. Tetapi akibat empat kelemahan yang tanpa disadari terus dilakukan, sehingga toko bangkrut perlahan-lahan,” kata Djarot saat membuka Pelatihan Manajemen Ritel di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Selasa (20/10).
Kelemahan pertama, paparnya, para pemilik toko kelontong kurang teliti terhadap tanggal kedaluwarsa produk makanan dan minuman yang dijual. Sementara, saat ini, konsumen sudah semakin cerdas untuk melihat tanggal kedaluwarsa barang yang dibeli. Bila toko banyak menjual barang kedaluwarsa, maka akan kehilangan kepercayaan dari konsumen. Akibatnya, konsumen enggan belanja lagi di toko tersebut.
“Hati-hati kalau ada potongan harga besar di supermarket. Harus dicek tanggal kedaluwarsa barang. Biasanya yang diberikan potongan harga besar itu barang yang tanggal kedaluwarsanya sebentar lagi, paling sebulan atau dua bulan. Jadi hati-hati, karena konsumen sudah cerdas untuk hal itu,” ujarnya.
Kelemahan kedua, umumnya para pengusaha toko kelontong tidak bisa memisahkan penggunaan barang dagang untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Mereka selalu mengambil barang-barang dagangan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau ada saudaranya yang datang, pasti disuruh ambil barang dagangan. Kalau di rumah enggak ada beras, gula, atau teh, pasti ambil dari warung. Ini yang ditekankan sama ibu saya tidak boleh dilakukan. Karena jadinya tidak tahu perputaran uang dagangan,” jelasnya.
Kelemahan keempat, lanjutnya, karena sudah terjalin hubungan pribadi dengan konsumen, biasanya para pemilik toko kelontong mau memberikan utang terhadap konsumen. Akibatnya, utang konsumen menumpuk, dan modal tak berputar sama sekali.
“Karena punya hubungan emosional, ya tidak tega untuk tidak memberikan utang kepada pembeli yang tetangga kita. Itu kelemahan ibu saya juga, enggak tegaan. Kalau tetangga utang, pasti dikasih. Ya, utangnya sih gampang, tetapi menagihnya susah banget, jadi musuh,” ungkapnya.
Kelemahan keempat adalah pelaku usaha toko kelontong atau warung kecil tidak pernah membuat catatan pembukuan keuangan sederhana. Setiap barang yang masuk dan keluar atau sudah terjual tidak tercatat dengan baik. Akibatnya, tak terlihat arus perputaran uang dan keuntungan yang didapat.
“Bila kelemahan itu tidak dihindari, maka toko kelontong perlahan-lahan akan bangkrut. Tetapi kalau dihindari pasti usahanya akan berjalan dengan baik. Sebab, biaya manajemen toko kelontong murah karena tidak membayar pegawai. Biaya operasional juga murah,” tuturnya.

0 komentar:

Posting Komentar