Rabu, 21 Oktober 2015

Pedagang Toko Kelontong Jakarta Utara Akui Kekurangan Modal

Standard
 



Jakarta | Suara Pembaruan  - Pedagang toko kelontong di kota administrasi Jakarta Utara mengaku kekurangan modal saat mendapatkan pelatihan oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) pada Selasa (20/10) siang di Kantor Walikota Jakarta Utara.


Selain itu keberadaan minimarket dan sejumlah saingan dalam jarak dekat membuat usaha toko kelontong rumahan hanyalah pekerjaan sambilan bagi ibu rumah tangga untuk mendukung anggaran keluarga.

‎Salah satunya peserta pelatihan, Sukmawati (47)‎, warga Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara mengaku kekurangan modal untuk mengembangkan usaha toko kelontongnya.

"Kalau dari pedagang, yang penting ada pinjaman modal dengan bunga terjangkau dan jangan terlalu mencekik penghasilan kita sehari-hari. Apalagi zaman sekarang ini untuk mencari pekerjaan itu sangat sulit, jadi kalau memang ada tempat dan modal sedikit mending usaha saja," kata Sukma, di ‎ruang aula Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Selasa (20/10).

Menurut Sukma, saat ini pinjaman di bank sangat rumit dan memerlukan agunan yang cukup besar. "Kalaupun ada bank yang mau memberikan pinjaman biasanya lebih memilih prospek dan perkembangan dari usaha itu. Usaha toko kelontong seperti kami ini tidak termasuk dalam prioritas pinjaman dengan bunga rendah," ungkapnya.

Dikatakan Sukma, selama ini ia belum bisa disiplin memisahkan pemanfaatan penghasilan dari toko kelontongnya untuk belanja modal dan belanja kebutuhan sehari-hari.
"Masih digabung, apalagi suami sudah pensiun, jadi sumber‎ penghasilan‎ hanya dari penghasilan‎ toko kelontong ini. Makanya kadang kalau ada kebutuhan dapur diambil dari usaha kelontong," lanjut wanita yang sudah dua tahun membuka usaha warung kelontong ini.
‎Ia mengaku biasa mengambil bahan dagangan dari agen pasar terdekat agar harganya jauh lebih murah dan irit ongkos dibandingkan harus membeli dari toko grosir swalayan yang harus membeli dalam jumlah banyak baru mendapatkan potongan harga.
"Segmen konsumen kami juga kebanyakan tetangga, jadi kalau masih ada yang ‎berhutang tidak masalah, karena rumahnya masih berdekatan, apalagi di sekitar lingkungan tempat saya tinggal masih banyak rumah kontrakan," ucap Sukma.
‎Sementara itu, Nunung (39)‎, warga RT01/RW03, Kelurahan Tugu Utara yang sudah membuka usaha toko kelontong selama tiga tahun terakhir mengaku penghasilan usahanya semakin menurun karena adanya minimarket modern yang jaraknya hanya 10 meter dari kediamannya.
"Serba salah juga. Di satu sisi tidak bisa melarang mereka berusaha di tempat itu, tetapi di sisi lain kehadiran mereka membuat banyak warung kelontong di sekitar perumahan jadi semakin sepi dagangannya," kata wanita asal Brebes, Jawa Tengah itu.
‎Ia berharap pemerintah setempat lebih ketat dalam memberikan kebijakan peraturan perihal pembukaan toko ritel sehingga tidak mematikan usaha kecil bagi warga yang ada di perumahan.
"Ekonomi sekarang sedang lesu-lesunya, pabrik garmen saya saja sampai bangkrut, makanya saya usaha kelontong, meski penghasilannya tak seberapa yang penting bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari," lanjut Nunung.
Bahkan, menurutnya sepanjang area lingkungan tempatnya tinggal ada enam warung kelontong yang jaraknya hanya beberapa puluh meter sehingga omzet pedagang sepertinya tidak seberapa.
"Bisa laku Rp 100.000-200.000 saja sudah lumayan. Barang yang biasa dicari warga sini ya tabung elpiji tiga kilogram dan mainan anak-anak. Kalau malam, paling laku itu kopi hitam buat orang yang sedang bergadang," tambah Nunung.
‎Menanggapi hal tersebut‎, ‎Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, mengatakan pihaknya terus berupaya untuk membantu masyarakat yang memiliki usaha kecil menengah untuk mendapat ‎bantuan pinjaman lunak dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dikeluarkan Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan Provinsi DKI Jakarta.
"Bahkan untuk membantu distribusi para pemilik toko kelontong, kami akan bekerja sama dengan Alfamart untuk membuat stan PKK Mart di setiap RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak), jadi distribusi barang ke warung lebih mudah dan cepat," ujar Djarot.
Terkait keberadaan minimarket yang lokasinya terlalu dekat dengan pasar tradisional ataupun permukiman warga, Djarot mengaku akan meminta SKPD terkait untuk melakukan inspeksi.
"Kalau untuk perumahan yang ada di jalan besar dan ramai itu memang keberadaan minimarket dan warung kelontong warga tidak bisa dihindari, makanya dengan adanya pelatihan ini kami harapkan usaha keduanya bisa sama-sama maju," lanjut Djarot.
Lewat pelatihan, diharapkan sistem manajemen kelola dari warung kelontong dapat lebih modern dan bisa meningkatkan produktivitas dengan prinsip-prinsip usaha perusahaan yang disesuaikan tata kelola manajerial keluarga.
"Bila ditekankan dengan adanya pelatihan seperti ini sangat positif, pengusaha besar membantu pengusaha kecil, kegiatan seperti ini justru lebih berguna daripada membantu modal secara langsung, daripada memberi ikannya langsung, jauh bermanfaat diberikan kail (alat pancing)," jelas Djarot.

Sumber Arsip Berita & Dokumen Foto : Suara Pembaruan , Berita Satu

0 komentar:

Posting Komentar