Sabtu, 19 September 2015

Mau Warung Laris? Perhatian Penataan Produk

Standard

PARA pedagang warung tradisional mengikuti pelatihan ritel modern di Cianjur, Jumat (18/9/2015). 70% pembeli berbelanja lantaran melihat penataan produk yang rapi.*(Sumber : Pikiran Rakyat)

CIANJUR, (PRLM).- Penataaan produk dinilai penting dalam menarik minat pembeli. Bahkan, 60-70% minat membeli timbul dari penataan produk, tidak hanya di toko modern namun juga warung tradisional. Hal tersebut terungkap dalam pelatihan usaha mikro kecil dan menengah di Cianjur, Jumat (18/9/2015).

Puluhan pemilik warung tradisional ikut serta dalam pelatihan ini. Pentaan produk, strategi pemasaran hingga kebijakan keuangan masuk dalam pelatihan tersebut. Kegiatan ini digelar untuk mendongkrak kemampuan penjualan khususnya bagi warung tradisional.
Pada pelatihan tersebut diungkapkan, penataan barang dagangan menjadi kunci peningkatan omzet. Sejauh ini, hal tersebut tidak menjadi perhatian para pedagang.
"Jika misalnya barang dagangan tertata rapi, tentu pembeli akan lebih berminat untuk berbelanja. Kadang barang di warung murah tapi penataan tidak menarik ya percuma juga," ujar Branch Manajer PT Sumber Alfaria Trijaya Bandung II Daryono melalui Marketing Communication Muhamad Arfan saat pelatihan.
Pembeli yang tidak niat berbelanja akan tertarik melihat penataan barang menarik. Bukan hanya ditata namun juga dipilah produk berdasarkan jenisnya.
"Ini juga penting, misalnya jangan sampai roti di sampingnya deterjen pakaian, atau makanan dengan pasta gigi misalnya. Tidak ada larangan namun food harus dibedakan dengan non food, karena kan ada unsur kimianya juga. Kadang hal itu yang belum disadari. Kemudian berbarengan dengan kadaluarsa, pajang barang dengan tanggal kadaluarsa paling dekat di depan. First in first out," kata dia.
Diungkapkan Arfan, pada tampilan depan warung, utamakan produk yang dipajang yang paling banyak diminati. Warung yang bertempat di dekat sekolah, misalnya, produk unggulannya biasanya minuman dan jajanan.
"Maka itu yang ditampilkan di depan. Kalau sembako ya berarti minyak dan mi goreng yang biasanya tinggat keluar masuk barangnya banyak dan ini berbarengan dengan cash flow," kata dia.
Sedangkan untuk kebijakan keuangan dan permodalan, kata dia, pedagang harus memaksimal pada barang yang paling laku. "Yang penjualan terbanyak biasanya minyak dan mi maka perbanyakan menggunakan modal untuk barang itu. Jangan sampai ada yang distok," kata dia.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari CSR perusahaan. Ali Awaludin selaku Koordinator Store Sales Point Cianjur menyatakan, total ada 500 anggota dalam pelatihan ini. Untuk efektifitas penyampaian materi, pelatihan dilakukan secara bertahap.
Salah seorang peserta pelatihan, Fuad (27) cukup mendapat pengetahuan tentang peningkatan penjualan. Selama ini diakui persaingan harga masih menjadi pertimbangan utama, sedangkan penataan barang tidak diperhatikanm "Saya jadi tahu bagimana seharusnya barang dagangan ditata, bisa tahu juga cara membaca kode kedaluwarsa," ujar Fuad.

Sumber : Pikiran Rakyat (Tommi Andryandy/A-147)*** http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2015/09/18/342876/mau-warung-laris-perhatian-penataan-produk

0 komentar:

Posting Komentar